Mengingat Kembali



Kalian lihat foto itu? Masih ingat? Itu semua kita buat mendadak, bukan? H-1 kita baru mengerjakan properti secara besar-besaran, sewa baju dadakan, saling meminjam baju, kerudung, samping, ciput bahkan sampai kaos kaki. Pokoknya segala hal yang tidak ada kemudian yang lain memiliki bisa dibawa dan dipinjamkan kepada yang lain. Seru ya kalau diingat-ingat lagi. Semendadak itu kita mengerjakan. Sampai kita bisa menyaksikan senja di atas bangunan sekolah kemudian hilang kita masih bertahan untuk menyelesaikan properti pertunjukan kabaret yang akan dilaksanakan besok. Kuulangi, besok! Dengan segala hal yang membuat kesal, kemudian harus bisa saling meredam, ketika semangat sudah berada di titik paling bawah, kemudian harus bisa saling membangkitkan, ketika kemalasan sudah datang silih berganti kepada setiap orang, kemudian harus bisa saling mengingatkan.

Keesokanya ketegangan dari setiap orang mulai terasa. Belum apa-apa sudah dibuat panik oleh satu kendala. Tempat berjajarnya angklung tiba-tiba ambruk. Sebagian jatuh, sebagian lagi terselamatkan oleh tangan dan kaki penyelamat. Semua panik. Jelas saja panik. Sepuluh menit lagi pertunjukan kabaret kelas kita akan dimulai. Sebuah sekat akan segera dibuka. Tapi keadaan sedang kacau. Ada yang sibuk mengingat-ngingat gerakan, ada yang sibuk mencari kipas agar make up tidak luntur, ada yang sibuk mencari tisu untuk mengelap keringat, ada yang minum saking gugupnya, ada yang sibuk menyusun kembali angklung yang jatuh, dan ada yang sibuk mensolasikan kayu agar tempat di mana angklung itu berjajar bisa kembali tegak. Hanya bermodalkan solasi yang diputar hingga bisa merapatkan kembali kayu yang patah. Tidak ada pilihan lain, sesegera mungkin semua harus bisa diatasi, tanpa menimbulkan kecurigaan oleh guru maupun teman di lain kelas. Pertunjukan pun dimulai. Tanpa melakukan geladi sebelumnya. Bukannya tidak mau melakukan geladi atau so so-an paling jago, tetapi kita tidak sempat untuk melakukannya. Semua serba langsung. Sebelum semuanya benar-benar dimulai, kita berkumpul di luar, saling membentuk lingkaran untuk bisa saling berdo'a kemudian meneriaki diri sendiri kalau 'Kita bisa!'  'Saya tidak mau mengecewakan teman yang sudah mau berjuang ini!' 'Kita harus bisa memberikan yang terbaik!' 'Jika rasa semangat itu bernilai seratus, kita harus bisa menampilkannya sampai seribu!' 'Tunjukan kepada semua orang bahwa kita bisa!'

Hingga kalimat itu pun menggema di telinga saya "Dua Belas Mipa?!" "HIP HIP HORE" sebuah kata semangat yang sampai saat ini pun saya tidak tahu apa artinya. Kenapa juga kita memilih kata-kata itu. Seperti biasa, apa pun yang terlontar secara tiba-tiba ternyata bisa menjadi jargon andalan. 

Bangga sekali rasanya melihat semua tampil semaksimal itu. Ada rasa sedih yang menyelimuti saya pribadi. Ketika suara tepukan tangan itu terdengar begitu lantang dipendengaran, itu tandanya pertunjukan sudah selesai. Menundukan kepala sedalam mungkin sebagai tanda terima kasih kepada yang sudah menonton kemudian kita saling memeluk satu sama lain untuk meredam emosi yang sejak tadi tercipta saat penampilan itu berlangsung. Pelukan terhangat yang satu sama lain dapatkan. 

Terima kasih! Terima kasih untuk semua pengorbanan, perjuangan, kerja sama, perasaan senang, sedih, marah, kecewa, panik, terkejut. Terima kasih. Terima kasih banyak. Karena kalian semua bisa dijalani.

ps: Tempat angklung yang tadi sempat patah sudah kembali seperti semula, bukan lagi dirapatkan oleh solasi. Intinya semua kejadian yang sempat membuat kita semua panik sudah berdiri kokoh seperti semula.

Bandung, 19 November 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perkenalan

Bangga Menjadi Narablog Pada Era Digital